WWW.INISIAL.CO.CC   Rasulullah bersabda (yang artinya), "Sesungguhnya Islam pertama kali muncul dalam keadaaan asing dan nanti akan kembali asing sebagaimana semula. Maka berbahagialah orang-orang yang asing (alghuroba')."(hadits shahih riwayat Muslim) "Berbahagialah orang-orang yang asing (alghuroba'). (Mereka adalah) orang-orang shalih yang berada di tengah orang-orang yang berperangai buruk. Dan orang yang memusuhinya lebih banyak daripada yang mengikuti mereka."(hadits shahih riwayat Ahmad) "Berbahagialah orang-orang yang asing (alghuroba'). Yaitu mereka yang mengadakan perbaikan (ishlah) ketika manusia rusak."(hadits shahih riwayat Abu Amr Ad Dani dan Al Ajurry)
Yang MEROKOK, dilarang buka blog saya...!!! image Klik! untuk mampir ke blog saya SILAKAN KLIK!
تبرئة العلامة الهرري مما افتراه عليه المدعو عبد الرحمن دمشقية في كتابه المسمى "الحبشي شذوذه وأخطاؤه"  والكتاب المسمى "بين أهل السنة وأهل الفتنة" وغيرهما من الإصدارات من مناشير وشرط  

Sangat Istimewanya Kalimat Laa Ilaha Illallah


Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah dalam Kalimatul Ikhlas mengatakan,”Kalimat Tauhid (yaitu Laa Ilaha Illallah, pen) memiliki keutamaan yang sangat agung yang tidak mungkin bisa dihitung.” Lalu beliau rahimahullah menyebutkan beberapa keutamaan kalimat yang mulia ini. Di antaranya:

(1) Kalimat ‘Laa Ilaha Illallah’ merupakan harga surga

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Barangsiapa yang akhir perkataannya sebelum meninggal dunia adalah ‘lailaha illallah’, maka dia akan masuk surga” (HR. Abu Daud. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Misykatul Mashobih no. 1621)

(2) Kalimat ‘Laa Ilaha Illallah’ adalah kebaikan yang paling utama

Abu Dzar berkata,”Wahai Rasulullah, apakah ’laa ilaha illallah’ merupakan kebaikan?” Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,”Kalimat itu (laa ilaha illallah, pen) merupakan kebaikan yang paling utama. Kalimat itu dapat menghapuskan berbagai dosa dan kesalahan.” (Dinilai hasan oleh Syaikh Al Albani dalam tahqiq beliau terhadap Kalimatul Ikhlas, 55)

(3) Kalimat ‘Laa Ilaha Illallah’ adalah dzikir yang paling utama

Hal ini sebagaimana terdapat pada hadits yang disandarkan kepada Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam (hadits marfu’), ”Dzikir yang paling utama adalah bacaan ’laa ilaha illallah’.” (Dinilai hasan oleh Syaikh Al Albani dalam tahqiq beliau terhadap Kalimatul Ikhlas, 62)

(4) Kalimat ‘Laa Ilaha Illallah’ adalah amal yang paling utama, paling banyak ganjarannya, menyamai pahala memerdekakan budak dan merupakan pelindung dari gangguan setan

Sebagaimana terdapat dalam shohihain (Bukhari-Muslim) dari Abu Hurairoh radhiyallahu ’anhu, dari Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam, beliau bersabda, ”Barangsiapa mengucapkan ’laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ’ala kulli syay-in qodiir’ [tidak ada sesembahan yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya, milik-Nya kerajaan dan segala pujian. Dia-lah yang Maha Kuasa atas segala sesuatu] dalam sehari sebanyak 100 kali, maka baginya sama dengan sepuluh budak (yang dimerdekakan, pen), dicatat baginya 100 kebaikan, dihapus darinya 100 kejelekan, dan dia akan terlindung dari setan pada siang hingga sore harinya, serta tidak ada yang lebih utama darinya kecuali orang yang membacanya lebih banyak dari itu.” (HR. Bukhari no. 3293 dan HR. Muslim no. 7018)

(5) Kalimat ‘Laa Ilaha Illallah’ adalah Kunci 8 Pintu Surga, orang yang mengucapkannya bisa masuk lewat pintu mana saja yang dia sukai

Dari ’Ubadah bin Shomit radhiyallahu ’anhu, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”Barangsiapa mengucapkan ’saya bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya, dan (bersaksi) bahwa ’Isa adalah hamba Allah dan anak dari hamba-Nya, dan kalimat-Nya yang disampaikan kepada Maryam serta Ruh dari-Nya, dan (bersaksi pula) bahwa surga adalah benar adanya dan neraka pun benar adanya, maka Allah pasti akan memasukkannya ke dalam surga dari delapan pintu surga yang mana saja yang dia kehendaki.” (HR. Muslim no. 149) [Lihat Kalimatul Ikhlas, 52-66]

KALIMAT ’LAILAHA ILLALLAH’ BUKAN HANYA DI LISAN

Setelah kita mengetahui kalimat laa ilaha illallah di atas, perlu diketahui bahwasanya kalimat laa ilaha illallah tidaklah diterima dengan hanya diucapkan semata. Banyak orang yang salah dan keliru dalam memahami hadits-hadits tentang keutamaan laa ilaha illallah. Mereka menganggap bahwa cukup mengucapkannya di akhir kehidupan –misalnya-, maka seseorang akan masuk surga dan terbebas dari siksa neraka. Hal ini tidaklah demikian.
Semua muslim pasti telah memahami bahwa segala macam bentuk ibadah tidaklah diterima begitu saja kecuali dengan terpenuhi syarat-syaratnya. Misalnya saja shalat. Ibadah ini tidak akan diterima kecuali jika terpenuhi syaratnya seperti wudhu. Begitu juga dengan puasa, haji dan ibadah lainnya, semua ibadah tersebut tidak akan diterima kecuali dengan memenuhi syarat-syaratnya. Maka begitu juga dengan kalimat yang mulia ini. Kalimat laa ilaha illallah tidak akan diterima kecuali dengan terpenuhi syarat-syaratnya.
Oleh karena itu, para ulama terdahulu (baca : ulama salaf) telah mengisyaratkan kepada kita mengenai pentingnya memperhatikan syarat laa ilaha illallah.

Di antaranya, Wahab bin Munabbih telah ditanyakan,”Bukankah kunci surga adalah laa ilaha illallah?” Beliau rahimahullah menjawab,”Iya betul. Namun, setiap kunci itu pasti punya gerigi. Jika kamu memasukinya dengan kunci yang memiliki gerigi, pintu tersebut akan terbuka. Jika tidak demikian, pintu tersebut tidak akan terbuka.” Beliau rahimahullah mengisyaratkan bahwa gerigi tersebut adalah syarat-syarat kalimat laa ilaha illallah. (Lihat Fiqhul Ad’iyyah wal Adzkar I/179-180)

OLEH KARENA ITU, PENUHILAH 7 SYARAT LAA ILAHA ILLALLAH

Dari hasil penelusuran dan penelitian terhadap Al Qur’an dan As Sunnah, para ulama menyimpulkan bahwa kalimat laa ilaha illallah tidaklah diterima kecuali dengan memenuhi tujuh syarat berikut :

Syarat pertama, mengilmui makna laa ilaha illallah

Maksudnya adalah menafikan peribadahan (penghambaan) kepada selain Allah dan menetapkan bahwa Allah satu-satunya yang patut diibadahi dengan benar serta menghilangkan sifat kejahilan (bodoh) terhadap makna ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa mati dalam keadaan mengetahui bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah, maka dia akan masuk surga.” (HR. Muslim no.145)

Syarat kedua, meyakini kalimat laa ilaha illallah

Maksudnya adalah seseorang harus meyakini kalimat ini seyakin-yakinnya tanpa boleh ada keraguan sama sekali. Yakin adalah ilmu yang sempurna. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah dan aku adalah utusan Allah. Seorang hamba yang bertemu Allah dengan keduanya dalam keadaan tidak ragu-ragu, Allah tidak akan menghalanginya untuk masuk surga.” (HR. Muslim no. 148)

Syarat ketiga, menerima kalimat laa ilaha illallah

Maksudnya adalah seseorang menerima kalimat tauhid ini dengan hati dan lisan, tanpa menolaknya. Dan Allah telah mengisahkan kebinasaan orang-orang sebelum kita dikarenakan menolak kalimat ini. Lihatlah pada firman Allah Ta’ala (yang artinya), “Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami mengingkari agama yang kamu diutus untuk menyampaikannya.” Maka Kami binasakan mereka maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu.” (QS. Az Zukhruf [43] : 24-25)

Syarat keempat, inqiyad (patuh) kepada syari’at Allah

Maksudnya adalah meniadakan sikap meninggalkan yaitu seorang yang mengucapkan laa ilaha illallah haruslah patuh terhadap syari’at Allah serta tunduk dan berserah diri kepada-Nya. Karena dengan inilah, seseorang akan berpegang teguh dengan kalimat laa ilaha illallah.
Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman, “Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh.” (QS. Luqman [31] : 22). Yang dimaksudkan dengan ‘telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh’ adalah telah berpegang dengan laa ilaha illallah.

Syarat kelima, jujur dalam mengucapkan laa ilaha illallah

Maksudnya adalah seseorang yang mengucapkan kalimat ikhlas laa ilaha illallah harus benar-benar jujur (tidak ada dusta) dalam hatinya dan juga diikuti dengan pembenaran dalam lisannya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah seseorang bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya dengan kejujuran dari dalam hatinya, kecuali Allah akan mengharamkan neraka baginya.” (HR. Bukhari no. 128)

Syarat keenam, ikhlas dalam beramal

Maksudnya adalah seseorang harus membersihkan amal -dengan benarnya niat- dari segala macam kotoran syirik. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah ketaatan (baca: ibadah) yang ikhlas (bersih dari syirik).” (QS. Az Zumar [39] : 3)

Syarat ketujuh, mencintai kalimat laa ilaha illallah

Maksudnya adalah seseorang yang mengucapkan kalimat ini mencintai (tidak benci pada) Allah, Rasul dan agama Islam serta mencintai pula kaum muslimin yang menegakkan kalimat ini dan menahan diri dari larangan-Nya. Dia juga membenci orang yang menyelisihi kalimat laa ilaha illallah, dengan melakukan kesyirikan dan kekufuran yang merupakan pembatal kalimat ini.
Yang menunjukkan adanya syarat ini pada keimanan seorang muslim adalah firman Allah Ta’ala, “Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah.” (QS. Al Baqarah [2] : 165)
[Lihat pembahasan ini pada : (1) Ma’arijul Qobul, I/ 327-332 dan (2) Fiqhul Ad’iyyah wal Adzkar, I/180-184]

Inilah syarat-syarat yang harus dipenuhi agar seseorang bisa mendapatkan keutamaan laa ilaha illallah. Jadi, untuk mendapatkan keutamaan-keutamaan laa ilaha illallah bukanlah hanyalah di lisan saja, namun hendaknya seseorang memenuhi syarat-syarat ini dengan amalan/ praktek (tanpa mesti dihafal).
Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang mampu meyakini makna kalimat tauhid ini, mengamalkan konsekuensi-konsekuensinya dalam perkataan maupun perbuatan, dan semoga kita mati dalam keadaan mu’min. Amin Ya Mujibad da’awat.

Yang selalu mengharapkan ampunan dan rahmat Rabbnya

Aku Ingin Meraih Syafa’at di Hari Akhir Nanti


Disusun oleh Muhammad Abduh Tuasikal, ST (Artikel Buletin At Tauhid)

Hari kiamat adalah kehidupan di akhirat yang satu harinya sama dengan 50.000 tahun lamanya. Di sana tidak terdapat bangunan, pohon untuk berlindung, dan tidak ada pula pakaian yang menutupi badan. Keadaan pada saat itu saling berdesakan. Allah Ta’ala mengisahkan kejadian pada saat itu (yang artinya), “Pada hari itu manusia mengikuti (menuju kepada suara) penyeru dengan tidak berbelok-belok; dan merendahlah semua suara kepada Rabb Yang Maha Pemurah, maka kamu tidak mendengar kecuali bisikan saja.” (QS. Thaahaa [20] : 108)
Hari tersebut adalah hari yang sangat dahsyat. Manusia pada saat itu akan menemui kesulitan dan kesusahan yang tidak mampu untuk dihilangkan selain dengan meminta pertolongan kepada Allah Ta’ala melalui syafa’at. Orang-orang saat itu mendapatkan ilham untuk meminta syafa’at kepada para Nabi untuk menghilangkan kesulitan mereka saat itu. Nabi Adam, Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Musa, dan Nabi Isa ‘alaihimus salam didatangi oleh orang-orang lalu mereka mengemukakan alasan tidak mampu memberi syafa’at pada saat itu. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam-lah yang akhirnya memberikan syafa’at –yang dikenal dengan syafa’at al ‘uzhma-. Inilah salah satu syafa’at yang khusus dimiliki oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan masih ada bentuk syafa’at lain yang dimiliki oleh beliau dan selainnya.

Apa itu Syafa’at ?

Syaikh Sholih Al Fauzan hafizhohullah mengatakan, “Syafa’at secara bahasa diambil dari kata asy syaf’u yang merupakan lawan kata dari al witr. Sedangkan al witr adalah ganjil atau tunggal. Kata asy syaf’u berarti lebih dari satu yaitu dua, empat, atau enam. Dan ays syaf’u dikenal dengan istilah bilangan ‘genap’.
Secara istilah, syafa’at adalah menjadi perantara (penghubung) dalam menyelesaikan hajat yaitu perantara antara orang yang memiliki hajat dan yang bisa menyelesaikan hajat.” (At Ta’liqot Al Mukhtashoroh ‘alal Aqidah Ath Thohawiyah, hal. 95)

Golongan Manusia Dalam Menyikapi Syafa’at

Ada tiga golongan manusia dalam menyikapi syafa’at dan hanya ada satu golongan yang benar dalam menyikapinya.
Golongan pertama adalah yang berlebihan dalam menetapkan adanya syafa’at bahkan mereka meminta syafa’at tersebut langsung pada mayit, penghuni kubur, berhala, pohon, dan batu. Sebagaimana terdapat pada firman Allah (yang artinya), “Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfa’atan, dan mereka berkata: “Mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Allah”.” (QS. Yunus [10] : 18)
Golongan kedua adalah golongan yang berlebihan dalam menolak syafa’at seperti Mu’tazilah dan Khowarij. Mereka menafikan adanya syafa’at bagi pelaku dosa besar. Mereka jelas-jelas telah menyelisihi nash-nash Al Kitab dan As Sunnah yang diriwayatkan dalam banyak jalur yang jelas-jelas menetapkan adanya syafa’at bagi pelaku dosa besar.
Di antara dalil tersebut adalah dari Anas bin Malik, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Syafa’atku juga bagi pelaku dosa besar dari umatku.” (HR. Abu Daud no. 4739 dan Tirmidzi no. 2435. Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho’if Sunan Abu Daud mengatakan bahwa hadits ini shohih)
Golongan ketiga yaitu golongan yang bersikap pertengahan. Merekalah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Mereka mengimani adanya syafa’at sebagaimana yang telah disebutkan oleh Allah dan Rasul-Nya tanpa bersikap berlebihan dan meremehkan.

Hukum Meminta Syafa’at Kepada Selain Allah

Para pemuja kuburan para wali dan orang sholih saat ini sering sekali berdalil dengan masalah syafa’at terhadap kesyirikan yang mereka lakukan. Sebagian mereka mengatakan, “Nabi dan para wali tersebut adalah pemberi syafa’at kami di hari kiamat nanti. Kenapa kalian melarang kami meminta syafa’at kepada mereka?”

Sebagai jawaban dari kerancuan di atas, perlu diingat bahwa syafa’at itu hanyalah milik Allah Ta’ala. Perhatikanlah firman Allah Ta’ala (yang artinya), “Katakanlah: “Hanya kepunyaan Allah syafaat itu semuanya.” (QS. Az Zumar [39] : 44)

Jadi, syafa’at bukanlah milik Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, malaikat, para wali dan orang sholih lainnya. Mereka semua bisa memberikan syafa’at jika melalui izin dan ridho Allah Ta’ala. Renungkanlah ayat ini –semoga kita menjadi orang yang mendapatkan petunjuk- (yang artinya), “Dan berapa banyaknya malaikat di langit, syafaat mereka sedikitpun tidak berguna, kecuali sesudah Allah mengijinkan bagi orang yang dikehendaki dan diridhai (Nya).” (QS. An Najm [53] : 26)
Wahai saudaraku yang merindukan kebenaran, ketahuilah bahwa kami benar-benar meyakini adanya syafa’at, kami sama sekali tidak mengingkarinya. Namun, yang kami ingkari adalah perbuatan meminta-minta syafa’at kepada orang yang tidak mampu memberinya.
Kenapa tidak langsung meminta syafa’at tersebut pada Allah dengan berdo’a : “Ya Allah, janganlah Engkau halangi aku untuk mendapat syafa’at beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam”, atau ”Ya Allah, berikanlah kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam hak memberi syafa’at untukku”?
Sungguh kesalahan besar jika seseorang meminta syafa’at kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam atau orang sholih, dan tidak meminta langsung kepada Allah sembari mengatakan, “Ya Muhammad, berilah kami syafa’at” atau “Wahai orang sholih yang memiliki kedudukan mulia di sisi Allah, berilah syafa’at pada kami”.
Ingatlah bentuk meminta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan orang sholih seperti ini merupakan bentuk do’a kepada selain Allah. Hal semacam ini jelas-jelas dilarang dan termasuk syirik sebagaimana Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun dalam ibadahmu di samping (menyembah) Allah.” (QS. Al Jin [72] : 18).

Bagaimana mungkin seseorang bisa mendapatkan syafa’at di sisi Allah sedangkan dia berbuat syirik kepada-Nya?!

Syafa’at Tidaklah Akan Diperoleh oleh Pelaku Syirik

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Katakanlah wahai Rasulullah, siapa yang berbahagia karena mendapat syafa’atmu di hari kiamat nanti?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Wahai Abu Hurairah, aku merasa tidak ada yang bertanya kepadaku tentang hal ini selain engkau. Yang aku lihat, ini karena semangatmu mempelajari hadits. Yang berbahagia dengan syafa’atku pada hari kiamat nanti adalah yang mengucapkan laa ilaha illallah dengan ikhlas dalam hatinya.” (HR. Bukhari no. 99)

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan mengenai hadits ini, “Inilah sebab utama (paling besar) yang membuat seseorang bisa mendapatkan syafa’at Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu dengan memurnikan tauhid. Hal ini berkebalikan dengan kelakukan orang-orang musyrik yang meyakini bahwa syafa’at itu diperoleh dengan menjadikan para wali dan para hamba selain Allah sebagai syafi’ (pemberi syafa’at).
Dalam hadits ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membalikkan sangkaan mereka (orang-orang musyrik) yang dusta. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan bahwa sebab memperoleh syafa’at adalah dengan memurnikan tauhid. Dengan melakukan hal ini, barulah Allah mengizinkan pemberi syafa’at (syafi’) untuk memberikan syafa’at. Sungguh ini adalah kebodohan orang-orang musyrik. Mereka berkeyakinan bahwa siapa yang menjadikan para wali sebagai pemberi syafa’at, maka para wali tersebut akan memberi manfaat (dengan menolong mereka) di sisi Allah. Sebagaimana mereka menyangka bahwa para raja bisa menolong mereka karena adanya rekomendasi dari pembantu mereka. Padahal tidak ada yang dapat memberi syafa’at kecuali melalui izin Allah. Tidak ada izin dari-Nya selain pada orang yang Dia ridhoi perkataan dan amalnya.” (Madarijus Salikin, 1/341, Maktabah Syamilah)

Marilah Meraih Syafa’at Di Hari Kiamat Kelak

Saudaraku, sungguh hari kiamat adalah hari yang sangat menyulitkan. Seseorang sangat membutuhkan syafa’at ketika itu agar terlepas dari kesulitan-kesulitan yang ada. Namun, untuk mendapatkan syafa’at ketika itu perlu ada sebab. Sebab tersebut tidaklah mungkin dilakukan ketika kita sudah berkumpul di hari kiamat nanti karena hari kiamat bukanlah hari untuk beramal lagi. Oleh karena itu, sebab mendapatkan syafa’at tersebut hanya dapat kita laksanakan di dunia ini. Lalu apa saja sebab tersebut? Sebab utama mendapatkan syafa’at telah kami jelaskan di atas yaitu dengan memurnikan tauhid dan menjauhkan diri dari noda-noda syirik.

Sebab lain yang disebutkan dalam hadits yang shohih adalah : [1] Syafa’at Al Qur’an, [2] Syafa’at puasa, [3] Tinggal dan mati di Madinah, [4] Bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (dengan shalawat yang dituntunkan, bukan dengan shalawat yang dibuat-buat dan mengandung kesyirikan) dan memintakan wasilah (kedudukan tinggi di surga) untuknya, [5] Syafa’at orang yang menyolati mayit pada si mayit, dan [6] Memperbanyak sujud

Inilah sedikit pembahasan seputar syafa’at. Semoga dengan tulisan yang singkat ini bisa memberikan manfaat kepada kaum muslimin. Semoga kita termasuk orang-orang yang mendapatkan syafa’at di hari kiamat kelak. Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.

Tuntunan Di Kuburan yang Mulai Ditinggalkan

Komite Riset dan Fatwa Kerajaan Saudi Arabia, “al Lajnah ad Da’imah lil Buhuts al Ilmiyyah wal ‘Ifta ditanya

Apakah melepas sandal waktu di kuburan itu sunnah atau bid’ah?

Jawab:
Disyariatkan bagi yang masuk kuburan untuk melepas kedua sandalnya, berdasarkan apa yang diriwayatkan oleh Basyir bin Al-Khashashiyyah radhiyallahu ‘anhu, ia mengatakan:
Ketika aku berjalan mengiringi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ternyata ada seseorang berjalan di kuburan dengan mengenakan kedua sandalnya. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan:

يَا صَاحِبَ السَبْتِيَّتَيْنِ أَلْقِ سَبْتِيَّتَيْكَ

“Hai pemakai dua sandal tanggalkan kedua sandal kamu!”
Orang itu pun menoleh. Ketika dia tahu bahwa itu ternyata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia melepaskannya serta melemparkan keduanya. (HR. Abu Dawud)


sandal...

Al-Imam Ahmad rahimahullahu berkata: “Sanad hadits Basyir bin Al-Khashashiyyah bagus. Aku berpendapat dengan apa yang terkandung padanya kecuali bila ada penghalang.”
Penghalang yang dimaksudkan Al-Imam Ahmad adalah semacam duri, kerikil yang panas, atau semacam keduanya. Ketika itu, tidak mengapa berjalan dengan kedua sandal di antara kuburan untuk menghindari gangguan itu.
Allah Subhanahu wa Ta’ala-lah yang memberi taufiq, semoga shalawat dan salam-Nya tercurah atas Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarganya, dan para sahabatnya.
Ditandatangani oleh Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Asy-Syaikh Abdurrazzaq Afifi, dan Asy-Syaikh Abdullah Ghudayyan. (Fatwa Al-Lajnah Ad-Da’imah, 9/123-124)

Labels

comment

Download E book

Hire Me Direct
eXTReMe Tracker