WWW.INISIAL.CO.CC   Rasulullah bersabda (yang artinya), "Sesungguhnya Islam pertama kali muncul dalam keadaaan asing dan nanti akan kembali asing sebagaimana semula. Maka berbahagialah orang-orang yang asing (alghuroba')."(hadits shahih riwayat Muslim) "Berbahagialah orang-orang yang asing (alghuroba'). (Mereka adalah) orang-orang shalih yang berada di tengah orang-orang yang berperangai buruk. Dan orang yang memusuhinya lebih banyak daripada yang mengikuti mereka."(hadits shahih riwayat Ahmad) "Berbahagialah orang-orang yang asing (alghuroba'). Yaitu mereka yang mengadakan perbaikan (ishlah) ketika manusia rusak."(hadits shahih riwayat Abu Amr Ad Dani dan Al Ajurry)
Yang MEROKOK, dilarang buka blog saya...!!! image Klik! untuk mampir ke blog saya SILAKAN KLIK!
تبرئة العلامة الهرري مما افتراه عليه المدعو عبد الرحمن دمشقية في كتابه المسمى "الحبشي شذوذه وأخطاؤه"  والكتاب المسمى "بين أهل السنة وأهل الفتنة" وغيرهما من الإصدارات من مناشير وشرط  

Iman dasar Islam

Iman dasar Islam

Kalbu mereka sudah penuh dengan iman kepada Pencipta Ruh dan Pencipta semesta Alam ini, sesudah itu tidak perlu mereka menjerumuskan diri ke dalam perdebatan spekulatif yang kosong, yang takkan memberi hasil, takkan mencapai suatu kesimpulan.

Islam yang dicapai dengan iman dan Islam yang tanpa iman oleh Qur'an dibedakan: "Orang-orang Arab badwi itu berkata: 'Kami sudah beriman.' Katakanlah 'Kamu belum beriman, tapi katakan saja: kami sudah islam.' Iman itu belum lagi masuk ke dalam hati kamu." (Qur'an, 49: 14)

Contoh Islam yang demikian ini ialah yang tunduk kepada ajakan orang karena kehendaknya atau karena takut, karena kagum atau karena mengkultuskan diluar hati yang mau menurut dan memahami benar-benar akan ajaran itu sampai ke batas iman.

Yang demikian ini belum mendapat petunjuk Tuhan sampai kepada iman yang seharusnya dicapai, dengan jalan merenungkan alam dan mengetahui hukum alam, dan yang dengan renungan dan pengetahuannya itu ia akan sampai kepada Penciptanya - melainkan jadi Islam karena suatu keinginan atau karena nenek-moyangnya memang sudah Islam. Oleh karenanya iman itu belum merasuk lagi kedalam hatinya, sekalipun dia sudah Islam. Manusia-manusia Muslim semacam ini ada yang hendak menipu Tuhan dan menipu orang-orang beriman, tetapi sebenarnya mereka sudah menipu diri sendiri dengan tiada mereka sadari. Dalam hati mereka sudah ada penyakit. Maka oleh Tuhan ditambah lagi penyakit mereka itu. Mereka itulah orang-orang beragama tanpa iman; islamnya hanya karena didorong oleh suatu keinginan atau karena takut, sedang jiwanya tetap kerdil, keyakinannya tetap lemah dan hatinya pun bersedia menyerah kepada kehendak manusia, menyerah kepada perintahnya. Sebaliknya mereka, yang keimanannya kepada Allah itu dengan imam yang sungguh-sungguh, diantarkan oleh akal pikiran dan oleh jantung yang hidup, dengan jalan merenungkan alam ini, mereka itulah orang yang beriman. Mereka yang akan menyerahkan persoalannya hanya kepada Tuhan, mereka itulah orang yang tidak mengenal menyerah selain kepada Allah. Dengan Islamnya itu mereka tidak memberi jasa apa-apa kepada orang.

"Tetapi sebenarnya Tuhanlah yang berjasa kepada kamu, karena kamu telah dibimbingNya kepada keimanan, kalau kamu memang orang-orang yang benar." (Qur'an, 49: 17)

Jadi barangsiapa menyerahkan diri patuh kepada Allah dan dalam pada itu melakukan perbuatan baik, mereka tidak perlu merasa takut, tidak usah bersedih hati. Mereka tidak takut akan menghadapi hidup miskin atau hina, sebab dengan iman itu mereka sudah sangat kaya, sangat mendapat kehormatan. Kehormatan yang ada pada Tuhan dan pada orang-orang beriman.

Jiwa yang rela dan tenteram dengan imannya ini, ia merasa lega bila selalu ia berusaha hendak mengetahui rahasia-rahasia dan hukum-hukum alam, yang berarti akan menambah hubungannya dengan Tuhan. Dan langkah kearah pengetahuan ini ialah dengan jalan membahas dan merenungkan segala ciptaan Tuhan yang ada dalam alam ini dengan cara ilmiah seperti dianjurkan oleh Qur'an dan dipraktekkan pula sungguh-sungguh oleh kaum Muslimin dahulu, yaitu seperti cara ilmiah yang modern di Barat sekarang. Hanya saja tujuannya dalam Islam dan dalam kebudayaan Barat itu berbeda. Dalam Islam tujuannya supaya manusia membuat hukum Tuhan dalam alam ini menjadi hukumnya dan peraturannya sendiri, sementara di Barat tujuannya ialah mencari keuntungan materi dan apa yang ada dalam alam ini. Dalam Islam tujuan yang pertama sekali ialah 'irfan - mengenal Tuhan dengan baik, makin dalam 'irfan atau persepsi (pengenalan) kita makin dalam pula iman kita kepada Tuhan. Tujuan ini ialah hendak mencapai 'irfan yang baik dari segi seluruh masyarakat, bukan dari segi pribadi saja. Masalah integritas rohani bukan suatu masalah pribadi semata. Tak ada tempat buat orang mengurung diri sebagai suatu masyarakat tersendiri. Bahkan ia seharusnya menjadi dasar kebudayaan untuk masyarakat manusia sedunia - dari ujung ke ujung. Oleh karena itu seharusnya umat manusia berusaha terus demi integritas (kesempurnaan) rohani itu, yang berarti lebih besar daripada pengamatannya mengenai hakekat indera (sensibilia).

Persepsi2 mengenai rahasia benda-benda dan hukum-hukum alam yang hendak mencapai integritas itu lebih besar daripada persepsi sebagai alat guna mencapai kekuasaan materi atas benda-benda itu.

Dengan mencari pertolongan Tuhan sampai kepada alam

Untuk mencapai integritas rohani ini tidak cukup kita bersandar hanya kepada logika kita saja, malah dengan logika itu kita harus membukakan jalan buat hati kita dan pikiran kita untuk sampai ke tingkat tertinggi. Hal ini bisa terjadi hanya jika manusia mencari pertolongan dari Tuhan, menghadapkan diri kepadaNya dengan sepenuh hati dan jiwa. Hanya kepadaNya kita menyembah dan hanya kepadaNya kita meminta pertolongan, untuk mencapai rahasia-rahasia alam dan undang-undang kehidupan ini. Inilah yang disebut hubungan dengan Tuhan, mensyukuri nikmat Tuhan, supaya bertambah kita mendapat petunjuk akan apa yang belum kita capai, seperti dalam firman Tuhan:

"Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka (katakan) Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang bermohon - apabila dia bermohon kepadaKu. Maka sambutlah seruanKu dan berimanlah kepadaKu, kalau-kalau mereka terbimbing ke jalan yang lurus." (Qur'an 2: 186)

Sembahyang

"Dan carilah pertolongan Tuhan dengan tabah, dan dengan menjalankan sembahyang, dan sembahyang itu memang berat, kecuali bagi orang-orang yang rendah hati-kepada Tuhan. Orang-orang yang menyadari bahwa mereka akan bertemu dengan Tuhan dan kepadaNya mereka kembali." (Qur'an 2: 45-46)

Salat ialah suatu bentuk komunikasi dengan Tuhan secara beriman serta meminta pertolongan kepadaNya. Dengan demikian yang dimaksudkan dengan salat bukanlah sekadar ruku' dan sujud saja, membaca ayat-ayat Qu'ran atau mengucapkan takbir dan ta'zim demi kebesaran Tuhan tanpa mengisi jiwa dan hati sanubari dengan iman, dengan kekudusan dan keagungan Tuhan. Tetapi yang dimaksudkan dengan salat atau sembahyang ialah arti yang terkandung di dalam takbir, dalam pembacaan, dalam ruku', sujud serta segala keagungan, kekudusan dan iman itu. Jadi beribadat demikian kepada Tuhan ialah suatu ibadat yang ikhlas - demi Tuhan Cahaya langit dan bumi.

"Kebaikan itu bukanlah karena kamu menghadapkan muka ke arah timur dan barat, tetapi kebaikan itu ialah orang yang sudah beriman kepada Allah, kepada Hari Kemudian, malaikat-malaikat, Kitab, dan para nabi serta mengeluarkan harta yang dicintainya itu untuk kerabat-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang terlantar dalam perjalanan, orang-orang yang meminta, untuk melepaskan perbudakan, mengerjakan sembahyang dan mengeluarkan zakat, kemudian orang-orang yang suka memenuhi janji bila berjanji, orang-orang yang tabah hati dalam menghadapi penderitaan dan kesulitan dan di waktu perang. Mereka itulah orang-orang yang benar dan mereka itu orang-orang yang dapat memelihara diri." (Qur'an, 2: 177)

Orang mukmin yang benar-benar beriman ialah yang menghadapkan seluruh kalbunya kepada Allah ketika ia sedang sembahyang, disaksikan oleh rasa takwa kepadaNya, serta mencari pertolongan Tuhan dalam menunaikan kewajiban hidupnya. Ia mencari petunjuk, memohonkan taufik Allah dalam memahami rahasia dan hukum alam ini.

Orang mukmin yang benar-benar beriman kepada Allah tengah ia sembahyang akan merasakannya sendiri, selalu akan merasa, dirinya adalah sesuatu yang kecil berhadapan dengan kebesaran Allah Yang Maha Agung. Apabila kita dalam pesawat terbang diatas ketinggian seribu atau beberapa ribu meter, kita melihat gunung-gunung, sungai dan kota-kota sebagai gejala-gejala kecil di atas bumi. Kita melihatnya terpampang di depan mata kita seperti jalur-jalur yang tergaris di atas sebuah peta dan seolah permukaannya sudah rata mendatar tak ada gunung atau bangunan yang lebih tinggi, tak ada ngarai, sumur atau sungai yang lebih rendah, warna-warna sambung-menyambung, saling berkait, tercampur, makin tinggi kita terbang warna-warna itu makin tercampur. Seluruh bumi kita ini tidak lebih dari sebuah planet kecil saja. Dalam alam ini terdapat ribuan tata surya dan planet-planet. Semua itu tidak lebih dari sejumlah kecil saja dalam ketakterbatasan seluruh eksistensi ini. Alangkah kecilnya kita, alangkah lemahnya kcadaan kita berhadapan dengan Pencipta dan Pengurus wujud ini. KebesaranNya diatas jangkauan pengertian kita!

Dalam kita menghadapkan seluruh kalbu kita dengan penuh ikhlas kepada Kebesaran Tuhan Yang Maha Suci, kita mengharapkan pertolongan kepadaNya untuk memberikan kekuatan atas kelemahan diri kita ini, memberi petunjuk dalam mencari kebenaran - alangkah wajarnya bila kita dapat melihat persamaan semua manusia dalam kelemahannya itu, yang dalam berhadapan dengan Tuhan tak dapat ia memperkuat diri dengan harta dan kekayaan, selain dengan imannya yang teguh dan tunduk hanya kepada Allah, berbuat kebaikan dan menjaga diri.

RENUNGAN BUAT SANG SUAMI

RENUNGAN
BUAT SANG SUAMI
(Syaikh Musthafa Al-‘Adawy)
Wahai sang suami ...., apakah berat
bagimu, untuk tersenyum di hadapan
istrimu di kala dirimu masuk menemui
istri tercinta, agar engkau meraih pahala dari
Allah?!!
Apakah membebanimu untuk berwajah
yang berseri-seri tatkala dirimu melihat anak
dan istrimu?!!
Apakah menyulitkanmu wahai hamba
Allah, untuk merangkul istrimu, mengecup
pipinya serta bercumbu disaat engkau menghampiri
dirinya?!!
Apakah gerangan yang memberatkanmu
untuk mengangkat sesuap nasi dan me-
nyuapkannya di mulut sang istri, agar engkau
mendapat pahala?!!
Apakah susah, apabila engkau masuk
rumah sambil mengucapkan salam dengan
lengkap, “Assalamu`alaikum Warahmatullah
Wabarakatuh, agar engkau meraih 30 kebaikan?!!
Apakah gerangan yang membebanimu,
jika engkau menuturkan untaian kata-kata
yang baik yang disenangi kekasihmu, walaupun
agak terpaksa, dan mengandung bohong
yang dibolehkan?!!
Tanyalah keadaan istrimu di saat engkau
masuk rumah!! Apakah memberatkanmu,
jika engkau menuturkan kepada istrimu
di kala masuk rumah,”Duhai kekasihku, semenjak
Kanda keluar dari sisimu, dari pagi
sampai sekarang, serasa bagaikan setahun”.
Sesungguhnya, jika engkau benarbenar
mengharapkan pahala dari Allah walaupun
engkau dalam keadaan letih dan lelah,
dan engkau mendekati sang istri tercinta
dan menggaulinya, niscaya dirimu akan
mendapatkan pahala dari Allah, karena Rasulullah
bersabda :”Dan di dalam mempergauli
isteri kalian ada sedekah”.
Apakah melelahkanmu wahai hamba
Allah, jika engkau berdoa dan berkata,“Ya
Allah perbaikilah istriku dan berkatilah daku
pada dirinya”
Sesungguhnya ucapan baik itu adalah
sedekah. Wajah yang berseri dan senyum
yang manis di hadapan istri adalah sedekah.
Mengucapkan salam mengandung beberapa
kebaikan. Berjabat tangan mengugurkan
dosa-dosa. Berhubungan badan
mendapatkan pahala.

RENUNGAN BUAT SANG ISTRI

RENUNGAN
BUAT SANG ISTRI
(Syaikh Musthafa Al-‘Adawy)
Wahai sang Istri ...., apakah akan
membahayakan dirimu, apabila engkau
menemui suamimu dengan wajah yang
berseri, dihiasi simpul senyum yang manis di
saat dia masuk rumah?
Apakah memberatkanmu, apabila engkau
menyapu debu dari wajahnya, kepala,
dan baju serta mengecup pipinya.?!!
Apakah engkau merasa sulit, jika engkau
menunggu sejenak di saat dia memasuki
rumah, dan tetap berdiri sampai dia
duduk.!!!
Mungkinkah akan menyulitkanmu, jikalau
engkau berkata kepada suami : “Alhamdulillah
atas keselamatan Kanda, kami sa-
ngat rindu kedatanganmu, selamat datang
kekasihku”.
Wahai sang istri…
Berdandanlah untuk suamimu dan
harapkanlah pahala dari Allah di waktu
engkau berdandan, karena Allah itu Indah
dan mencintai keindahan
Pakailah parfum yang harum, dan bermake-
uplah, serta pakailah busana yang
paling indah untuk menyambut suamimu.
Jauhi dan jauhilah bermuka masam dan
cemberut.
Janganlah engkau mendengar dan
menghiraukan perusak dan pengacau yang
bermaksud merusak dan mengacaukan
keharmonisanmu dengan suami.
Janganlah selalu tampak sedih dan
gelisah, akan tetapi berlindunglah kepada
Allah dari rasa gelisah, sedih, malas dan
lemah.
Janganlah berbicara terhadap laki-laki
lain dengan lemah-lembut, sehingga
menyebabkan orang yang di hatinya ada
penyakit mendekatimu dan menduga hal-hal
yang jelek ada pada dirimu.
Selalulah dirimu dalam keadaan lapang
dada, hati tentram, dan ingat kepada Allah
setiap saat.
Ringankanlah suamimu dari setiap
keletihan, kepedihan dan musibah serta
kesedihan yang menimpanya.
Suruhlah suamimu untuk berbakti kepada
ibu bapaknya.
Didiklah anak-anakmu dengan baik. Isilah
rumah dengan tasbih, tahlil, tahmid, dan
takbir, perbanyaklah membaca Al-Quran terutama
surat Al-Baqarah, karena surat itu
dapat mengusir setan.
Bangunkanlah suamimu untuk melaksanakan
shalat malam, doronglah dia untuk
melakukan puasa sunah, ingatkan dia akan
keutamaan bersedekah, dan janganlah engkau
menghalanginya untuk menjalin hubungan
siraturrahim dengan karib kerabatnya.
Perbanyaklah beristighfar untuk dirimu,
suamimu, serta kedua orang tua dan seluruh
kaum muslimin. Berdoalah kepada Allah l
Subhanahu wa Ta’ala, agar dianugerahkan
keturunan yang baik, niat yang baik serta
kebaikan dunia dan akhirat. Ketahuilah sesungguhnya
Rabbmu Maha Mendengar doa
dan mencintai orang yang nyinyir dalam meminta.
Allah l berfirman: ”Dan Rabb-mu
berkata, “Serulah Aku niscaya Aku penuhi
doamu.” (Al-Ghafir : 60).

Labels

comment

Download E book

Hire Me Direct
eXTReMe Tracker